
"Ingat yang terjadi padamu waktu Ksatria Air datang di kehidupanmu!" Ujar Mari Si Burung Pipit. "Menyakitkan bukan?"
Gadis Es termenung. Teman-temannya, Mari Si Burung Pipit, Danan Mama Singa, Noe Sang Kelinci tak ada yang berpendapat Keping Salju harus dipertahankan olehnya. Markisa-kisa sendiri mengatakan kalau menurutnya Keping Salju hanya telah merasa nyaman padanya dan hanya menganggapnya sebagai adik.
Gadis Es dilema bukan kepalang. Antara rasio dan hatinya. Ingin rasanya membuktikan bahwa sahabat-sahabatnya itu salah. Bahwa ternyata Pangeran Matahari memang untuknya. Bahwa Pangeran Matahari bukan hanya sekedar harapan. Seketika ia teringat Ksatria Air, masa lalunya yang belum terlalu lama berlalu dari kehidupannya. Ksatria Air datang padanya dengan tatapan tajam nan indah yang mampu menusuk relung-relung hatinya yang kosong. Dan ternyata yang terjadi adalah Ksatria Air menyakitinya.Menghempasnya sampai serasa rusuk-rusuknya menohok kulitnya yang ringkih.
Ksatria Air adalah masa lalu. Dan ia menyakitkan. Gadis Es tahu itu. Ia ingin belajar dari masa lalu.
Lalu logikanya mulai berjalan, seketika ia ingat perkataan Pangeran Tepat Janji. Pangeran Tepat Janji pernah berkata padanya, "otakmu jangan diletakkan di hati!! Karena tak selamanya kasih sayang itu dengan kelembutan." Kata-kata itu seolah meresap ke setiap inci tubuh Gadis Es dan menjalar sampai ke bagian yang terdalam.
Gadis Es berpikir,' Pangeran Matahari pasti hanya menganggapku teman yang bisa membuatnya nyaman. Sahabat seperti layaknya ia dengan Nona Labu. Mungkin ia jenuh dengan suasana istana yang disuguhkan oleh Nona Lobak. Aku tak boleh berharap. Tak boleh kalau tak mau hatiku makin mengeras.'
Bersambung...
No comments:
Post a Comment