
Ketika masih dirundung kebimbangan, Ksatria Air kembali.
"Aku rindu," katanya. Gadis Es terdiam. Speechless. Tak tahu harus berbuat apa.
Tak bisa. Karena dia Ksatria Air. Tak bisa. Gadis Es tak kuasa menolak.
Ketika Ksatria Air kembali mengemis maaf padanya, berjanji akan mengubah sikap, dan segala macam untaian nada-nada manis dari bibirnya, Gadis Es goyah.
Gadis Es tahu, ini tak boleh terjadi. Ini salah.
Karena seperti halnya Pangeran Matahari, Ksatria Air juga telah memiliki kekasih. Ia Nona Irin, putri dari Panglima Sungai Bata. Walau hubungan mereka tak pernah disetujui oleh Panglima. Gadis Es tahu ia hanya dijadikan permen karet oleh Ksatria Air. Namun, ia terbuai. Terbuai oleh tatapan Ksatria Air yang begitu memikat. Ksatria Air bagi Gadis Es bagai kantung semar yang menyebarkan bau menggoda kepada serangga.
Lalu Gadis Es pergi menemui teman-temannya di Hutan Pojo-Pojo. Ia menemui Mari Si Burung Pipit, Danan Mama Singa, Noe Sang Kelinci, dan teman-teman lainnya. Tak disangka mereka semua tahu perihal kembalinya Ksatria Air. Dan tentu saja mereka tak tinggal diam.
Mari Si Burung Pipit berkata, "jangan sebut dirimu Gadis Es !!! Karna kau sama sekali tidak dingin. Kau hangat !!"
Semua menghakimi. Semua memojokkan. Gadis Es tersudut di pojokan hatinya. Yang menyakitkan, yang mereka bilang semua benar. Ksatria Air yang jahat dan Gadis Es yang bodoh. Perpaduan harmonis untuk menciptakan sebuah kesakitan pada yang bodoh.
Gadis Es menyesap manis yang diberikan Ksatria Air. Sereguk manis yang menyimpan selaksa pahit untuk menggenangi hatinya.
Ksatria Air ada di hatinya. Dan demi saat, Ksatria Air pun akan lenyap. Pasti.
Karena kali ini, Gadis Es memilih dirinya sendiri.
Bersambung...
