Aku merindukan saat-saat dimana aku masih memiliki perasaan cemas saat harus membuang isi steples sehabis digunakan untuk merekatkan plastic pembungkus makanan karena takut isi steples itu akan melukai tukang sampah yang membersihkannya.
Aku merindukan saat aku masih memiliki keinginan untuk merengek-rengek pada ibuku agar ia terus memakai daster hamilnya saat mengandung adikku karena ia terlihat begitu cantik saat memakainya di mataku
Aku merindukan saat aku masih berpikir bahwa di bulan tinggal seorang ibu yang sedang meyusui anaknya karena memang begitu kelihatannya oleh penglihatanku waktu itu. Bukan permukaannya yang bopeng-bopeng akibat asteroid-asteroid yang menabrak seperti yang akhirnya kulihat di televisi.
Aku merindukan saat aku masih berpikir bahwa langit itu seperti puding yang padat namun lembut dan awan seperti sebuah kasur empuk dan bukannya hanya uap air yang bergumul.
Aku merindukan saat-saat dimana setiap aku mendengar kata ‘tergantung’ yang malah ada di benakku justru gantungan baju yang biasa dipakai ibuku untuk menjemur pakaian.
Aku merindukan saat-saat dimana satu-satunya masalah terbesarku adalah bagaimana aku bisa menikmati pempek gopek-an atau es potong yang dicelup ke coklat cair tanpa harus ketahuan ibuku.
Atau bagaimana supaya akhirnya aku punya alasan untuk membolos mengaji di Engkong dekat rumahku karena aku begitu penasaran dengan terusan cerita komik Donal Bebek yang baru dibelikan ayahku.
Aku merindukan saat aku masih berpikir bahwa surga benar-benar berada di telapak kaki ibuku sehingga aku begitu cerewet mengingatkan beliau untuk selalu memakai sandal karena takut larva cacing tambang masuk lewat telapak kaki telanjangnya dan mengobrak-abrik surgaku.
Aku merindukan saat aku masih percaya bahwa semua orang pasti akan menolongku setiap aku berada dalam kesulitan. Percaya bahwa semua orang menyayangiku. Percaya bahwa mata semua orang tertuju padaku.
Kepolosan, antusias yang begitu tinggi, kepedulian, ketidaktahuan, keingintahuan, keyakinan, kenaifan dan harapan dari seorang gadis kecil berlabel Restu Diantina Putri.
Rambut sebahu yang hitam kelam dan tebal warisan dari ibunya, dengan rok merah SD yang terlalu pendek dan akhirnya justru balapan dengan celana ketatnya, dan tas dorong Mickey Mouse yang jadi terlihat begitu besar karena digendong oleh tubuh kecilnya. Aku rindu sosok itu.
Aku memang rindu. Tapi hanya sebatas itu. Selain ketidaktahuan yang selalu meningkat setiap aku justru mendapat pengetahuan baru, kesemua sifat itu sepertinya sudah memudar.
Warna-warna cerah dan hangat dalam lukisan kehidupanku waktu itu, bergradasi menjadi warna-warna kelam. Bahkan hampir hanya hitam, putih dan abu-abu.
Bukan pula aku ingin kembali. Memang sederhana tapi yang kulihat waktu itu adalah dunia yang begitu kecil. Dan sekarang aku meng-zoom out penglihatanku pada dunia yang sedikit lebih besar. Dan ternyata warna yang ada tidak hanya sekedar keduabelas atau ketigapuluh enam warna yang ada di kotak krayon KIKO-ku dulu.
Jatuh di selaput iris mataku dan membawanya ke retina, aku begitu terpesona dengan jutaan warna baru yang memperbesar pupil mataku.
No comments:
Post a Comment