Entah apa namanya hubungan ini. Entah dy serius atau hanya menganggap ini lelucon. Entah bagaimana nantinya. Entah bagaimana perasaanya terhadapku. Yang ku tahu sekarang ini, aku bahagia.
Aku tahu aku bodoh. Lebih buruk daripada keledai. Aku telah menjatuhkan diri berkali-kali dalam kubangan yang sama. Hanya saja aku justru menikmatinya. Menikmati kebodohanku sesuap demi sesuap agar dapat kusesapi getirnya yang nikmat. Yang candu.
Yang dengan perlahan mulai meracuni jiwaku. Membawanya pelan-pelan ke ambang kematian yang abadi.
Dan ku tahu, memang ia menyakitkan. Ia telah menyakiti. Dan sekarang apa yang harus kuperbuat ketika segalanya telah hancur di mataku? Ketika segalanya telah menjadi serpih dan tak dapat disatukan lagi.
Kembali aku dikecewakan. Bukan oleh siapa-siapa. Bukan oleh mereka. Bukan orang jahat. Bukan orang asing. Bukan teman. Tapi aku sendiri. Yang bodoh. Yang dibutakan oleh kenaifan yang teramat pekat.
Aku memang BENAR-BENAR BODOH !!!
kata orang yang mengerti bahasa binatang,
ReplyDeletesekawanan binatang sering bertanya kepada seekor keledai begini, "Mengapa
engkau tidak menarik gerobak?"
"Aku benci khayalan," jawab keledai.
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan
dan justru hanya disibukkan oleh masa lalu. Itu, sama halnya dengan
kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-
puing yang telah lapuk. Padahal, betapapun seluruh manusia dan jin
bersatu untuk mengembalikan semua hal yang telah berlalu, niscaya mereka tidak akan pernah mampu. Sebab, yang demikian itu sudah
mustahil pada asalnya. (la-tahzan jangan bersedih : 5-6)
tengs side...gw bakal inget pesen lo !!!
ReplyDelete