Untukmu Muhammad, Ya Rasulallah, manusia kecintaan Allah...
Berawal dari sebuah buku yang tengah kubaca tadi malam. Baru pada lembar pengantar, air mataku sudah menderas. Bukan, bukan karena buku itu musabab tangisku.
Hanya saja, buku itu berhasil mengingatkanku pada sebuah rindu. Rindu yang terlanjur membesar. Mengendap sekian tahun dan belum pernah tunai.
Sungguh aneh, merindukan seseorang yang bertemu saja belum. Yang menatap wajah purnamanya saja belum. Mencium wangi tubuhnya saja tak bisa.
Seseorang yang terpaut ribuan kilometer dan berabad jarak. Seseorang yang dengan mendengar namanya saja sudah membuatku gemetar. Gemetar oleh rindu yang begitu maha.
Malam tadi, rindu itu meruap lagi.
Iya. Aku rindu pada Muhammad bin Abdullah. Manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi.
Merindu mahluk yang berabad jarak dan ribuan kilometer. Jelas tak masuk logika mana pun. Tapi memang iya kan, cinta memang menganulir logika.
Rindu ini membuatku sesak, Ya Rabb.
Sungguh aku iri pada ahlul bait, pada para sahabat, para sayyidina yang hidup pada zamanmu, Ya Rasulallah. Sungguh aku iri pada mereka yang dapat bertatap wajah denganmu, melihat cahaya surgawi di matamu, menyaksikan tanda kenabian di bahumu.
Ya Habiballah, betapa aku merindukan kau mengetuk-ngetuk pintu rumahku, mengucapkan salam padaku kemudian mengajak shalat berjamaah sebagaimana yang kau lakukan pada Fatimah r.a. Betapa aku benar-benar merindukan dapat melihat langsung senyum dari bibir yang selalu mengucap dzikir itu. Betapa aku merindukan dapat dijenguk olehmu ketika aku jatuh sakit layaknya kau menjenguk Abu Thalhah. Betapa aku ingin syahid dengan melihat wajahmu, seperti Mukhayyiri.
Mungkin malam tadi adalah kulminasi rinduku selama ini. Tangis ini semata hanya akumulasi kerinduan menahun yang tak kunjung tunai. Rindu yang sudah ada sejak aku mendengar namamu. Rindu yang sudah sedemikian massif, hingga tak bersisa ruang lagi di hati untuk menampung rindu ini. Rindu yang terlanjur meluap.
Aku menangis lagi.
Entah tangisku ini memang karena aku sungguhan rindu padamu atau merasa diri hina, tak pantas menyebut bahwa merindukanmu, Ya Mustafa?
Sungguh sebenarnya aku malu mengatakan aku rindu, jika menghadirkannya dalam kehidupanku saja tak pernah. Jika mengamalkan As-Sunnah saja masih berat. Mungkin rindu ini tak ada satu kulah pun jika dibandingkan kecintaan Fatimah, Ali bin Abi Thalib, atau Thalhah atau Mukhayyiri atau Bilal bin Rabah. Tapi biarlah, biarlah air mata yang bahkan belum mengering ini menjadi saksi di mahkamahNya nanti. Berapa besar aku mencintaimu, berapa besar aku merindukanmu, biarlah air mata ini yang akan menjadi hisabnya.
Duhai lelaki agung pemilik rindu...
Betapa aku malu. Begitu banyak puisi lahir dari tanganku namun tak satu pun menyebut tentangmu. Biarlah tulisan ini menjadi kado kecilku untukmu, duhai Nabi Allah. Sebuah tulisan yang hadir hanya lantaran tak tahu lagi mesti kemana rindu ini kualamatkan.
Maka melalui tulisan ini, aku hanya ingin membagi rinduku. Rindu yang tak sanggup kutampung sendiri. Pada kalian, umat yang selalu dicintainya dengan segala kelembutan hati.
Ya Allahurabb, duhai Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin bertemu dengan rasulMu, kekasihMu. Walau sekadar mimpi. Satu mimpi saja. Sampai akhirnya aku dapat benar-benar bertemu dengannya di Padang Mahsyar. Sampai saat itu, duhai Dzat Yang Memberikan Rindu. Aku mohon...
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
No comments:
Post a Comment