Wednesday, March 9, 2011

Mencoba Berfilosofi: Catatan paling sotoy yang pernah gw bikin !!!

Kalau bisa dibilang filsafat dibuntel 500 halaman oleh Jostein Gaarder lewat Dunia Sophie, maka gw juga akan bilang kalau Dunia Sophie dirangkum oleh Albert Einstein dengan satu teori paling berpengaruh di dunia sepanjang masa, relativitas. Atau yang lebih dikenal dengan Postulat Einstein.



Dalam Dunia Sophie, Alberto Knox bilang bahwa Plato dan Aristoteles bisa saja separuh benar dan separuh salah. Itu berarti yang sebenarnya ingin ia katakan adalah bahwa kesemua teori filasafat itu relative. Benar dalam suatu waktu dan bisa menjadi salah pada waktu yang lain. Yup, seperti yang selalu Einstein bilang, “kebenaran itu relative”.



Agak sedikit aneh Gaarder sama sekali tidak menyebut Einstein dalam bukunya, padahal ia menceritakan Galileo Galilei, Isaac Newton, dan Immanuel Kant. Padahal kalau ada bapak filsafat modern, Einstein lah orangnya.



Lalu bagaimana dengan Copernicus? Bukankah ia yang pertama kali mengemukakan teori heliosentris-teori yang berpendapat bahwa matahari adalah pusat tata surya? Apa orang-orang mulai melupakan itu?



Lalu Alberto Knox juga menyebut-nyebut kalau St. Agustinus ‘mengkristenkan’ Plato. Berarti gw juga bisa ‘mengislamkan’ Aristoteles, bukan begitu? Atau bahkan Socrates?



Omong-omong Socrates, apa yang terjadi kalau gw hidup di zamannya? Apakah gw akan jadi filsuf? Atau sebaliknya, apa yang terjadi kalau Socrates hidup di zaman sekarang? Apa ia akan menjadi mahasiswa dengan penuh pertanyaan-pertanyaan tolol? Atau tukang sensus?



Karena, jauh sebelum gw baca Dunia Sophie, sekitar jaman gw SD, gw nonton sebuah cuplikan sinetron. Saat itu, pemeran laki-lakinya lagi jalan sendirian tengah malam-gw lupa dalam keadaan mabuk atau ga. Lalu ia melihat sebuah diskotik dan kemudian masuk. Padahal sebenernya itu rumah kosong!



Dari situ, gw yang masih SD mikir, apakah yang sedang gw alamin ini nyata atau engga? Apa ini Cuma mimpi? Jangan-jangan gw sebenernya lagi di kuburan bukan di rumah lagi nonton sinetron seperti yang gw pikir lagi gw alamin? Bisa jadi..bisa jadi…



Sama halnya yang dipikirkan Descartes. See, mungkin aja gw ada bakat jadi filosof. *noyordirisendiri*



Sekali lagi, relative.



Socrates bilang orang yang paling bijak adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya tidak tahu. Maka apa yang dikerjakannya sepanjang hari di alun-alun kota Athena adalah bertanya. Rasa ingin tahu yang besar adalah cerminan dari seorang filosof. See….



Sayangnya gw tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang menganggap banyak bertanya itu adalah sesuatu yang tabu. Dianggap cari muka, cerewet, dan sebagainya. Lingkungan yang menganggap kemahiran dalam menyontek merupakan suatu prestasi yang patut dibanggakan.



Kerdil.



Bingung? Ga usah khawatir. Itu artinya elo mikir. Masalahnya gw sendiri juga bingung.



Kembali ke Dunia Sophie, gw pikir begitu banyak orang-orang dulu mewariskan begitu banyak ilmu pengetahuan yang mencengangkan. Dari zaman Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Renesains, Abad Pencerahan. Dari Socrates sampai Darwin. Masalah arti nurani sampai mengapa orbit tata surya berbentuk elips.



Lalu apa yang kita wariskan nanti untuk generasi setelah kita??



Iphone paling canggih tidak akan berarti apa-apa kalau kita mesti saling membunuh demi mendapatkan segelas air bersih. Ferrari keluaran terbaru pun bakal rela ditukar hanya dengan sebungkus nasi. Orang juga ga akan peduli baju kita keren apa engga karena kita tetap saja akan kelihatan tua akibat dehidrasi parah. Kita juga ga akan peduli lagi berapa jumlah follower kita di twitter lantaran kita lebih memikirkan kapan hujan air kembali turun menyejukkan bumi bukannya hujan asam terus-menerus.



Lantas apakah gw menyalahkan James Watt, dalang di balik mesin uap itu? Atau Rotheim dengan aerosol-nya yang bikin lapisan ozon kian menipis? Atau Benz dengan karbondioksida dari mobil temuannya? Atau Daimler yang menemukan sepeda motor? Atau Mr. Edison yang menerangi malam lewat lampu bikinannya?



Gw rasa mereka sama sekali tidak menyangka kalau temuan mereka akan digunakan begitu amat tidak bertanggungjawabnya oleh kita. Gw rasa mereka tidak pernah mengira kalau temuannya dijadikan alat untuk merusak bumi.



Hedonis? Mungkin. Ironis.



Kita berada pada generasi yang mengambang. Generasi yang menentukan seperti apa wajah bumi pada generasi berikutnya. Selamatkan atau kita akan dikutuk sebagai generasi yang gagal oleh seluruh generasi baik sebelum atau sesudah kita. Kalau itu sampai terjadi, maka jika generasi sebelum kita ditulis dalam sejarah sebagai generasi penemu, lalu generasi kita sebagai penikmat sekaligus perusak bumi, maka generasi sesudahnya mungkin akan tercatat sebagai generasi yang “ngebenerin” bumi. See…kelihatan kan, siapa yang paling menyedihkan di situ?



Think about it, guys. Mumpung kita masih punya waktu sebelum bumi ini benar-benar hancur. Apa yang akan kita wariskan untuk masa depan anak cucu kita?



n.b: kayaknya gw salah ngasi judul. Coba liat ! Gw sama sekali ga bikin filosofi baru. Heuuuhhh…stupid mondo !!

No comments:

Post a Comment