Friday, October 21, 2011

Pepeng: Saya Mengontrol Sakit Saya

Tubuhnya mungkin hanya bisa berbaring di dipannya sekarang. Namun, senyumnya masih seperti dulu. Masih sama seperti senyumnya tatkala ia masih sering kulihat di layar kaca membawakan acara kuis Jari-Jari pada decade 90-an. Walau kini Multiple Sclerosis (MS) tengah menguntitnya. Ferrasta Soebardi. Mungkin kau tidak terlalu familier dengan nama itu. Tapi bagaimana kalau aku menyebutnya…Pepeng?

Rabu (20/10) sore aku menginjakkan kaki di kediamannya di kawasan Cinere, Depok. Dua ekor kucing Anggora melangkah anggun menyambutku dari dalam rumah yang didominasi furniture ukiran-ukiran kayu itu. Kuhiraukan. Karena fokusku sekarang hanyalah bertemu dengan sang empunya rumah yang saat itu tengah menjamu tamu. Aku terpaksa menunggu.

Sejam kemudian aku sudah berada di kamarnya. Udara sejuk dari air conditioner di ruangan itu langsung menyerbu dan berhasil membuat bulir-bulir peluhku hasil ngangkot selama empat jam berkurang. Aku langsung memulai wawancaraku.

“Saya selalu merasa diri saya adalah database,” tembaknya langsung ketika kutanyai mengenai buku yang tengah digarapnya. “Dan kelebihan dari database ialah memilah. Dan saya memilih cerita hidup saya untuk diangkat menjadi sebuah buku.”

Pria yang pada 23 September silam berulang tahun yang ke-56 ini tengah menyelesaikan disertasinya dengan konsentrasi Pain Communication. Baginya, sakit adalah sebuah sinyal. Setiap manusia berangkat dari fear dan sakit itulah yang menandakan keberadaan fear tersebut. “Tak seharusnya rasa sakit itu diredam. Sakit itu harus dikontrol. Dan saya mengontrol sakit saya,” tambahnya.
Semenjak divonis menderita penyakit langka yang menyerang daya tahan tubuhnya 2005 silam, ia mengaku tidak pernah meminum obat dokter. Ia lebih memilih meminum obat herbal.

Selama sakit itu pun, total sudah lima buku yang ia rampungkan. Salah satunya “Di Balik Jari-Jari” yang sudah terlebih dahulu dilempar ke pasaran serta empat buku lainnya yakni, Parenting, Smart Marriage, Kami Bicara tentang Kami, dan The Movement without Move yang siap diterbitkan.

Khusus yang terakhir, buku tersebut berbicara banyak mengenai social movement. Hal tersebut, baginya, merupakan cara lain selain revolusi yang tengah menjadi wacana dimana-mana. “Bukannya kontra revolusi. Tapi saya selalu berpikir ada cara lain. Jika lewat revolusi mesti berdarah-darah, mungkin dengan ini hanya lebam. Kalau memang mau berbeda, benar-benar tunjukkan perbedaan itu,” jelas pria kelahiran Sumenep ini.

Ia juga menuturkan kalau manusia tak perlu banyak statement. Yang paling penting adalah bertanya. “Orang cerdas itu yang bertanya, sedangkan yang menjawab adalah orang bijak.”

Satu poin penting merangkum kelima buku tersebut, Pepeng hanya ingin menyampaikan dua hal kepada pembacanya. “Butuh jujur, butuh cinta,” tandasnya cepat. Kedua hal itulah yang bisa membawa perdamaian.




Carrier is Passion

“Saya hanya bisa tertawa jika ada orang yang bilang kalau karir saya berhenti sampai di sini. Kenyataannya tidak. Karir itu passion. Dan passion itu harus selalu ada. Saya akan berhenti berkarir nanti, jika saya sudah mati,” ungkapnya padaku sambil masih terus memamerkan senyumnya. Sesekali ia membetulkan letak kacamata bundar yang bertengger di atas kepalanya.

Mataku ngelayap memindai kamar yang tak begitu luas namun nyaman itu. Jejeran buku yang agak berantakan memenuhi sebagian sisi kiri dari dipannya. Dan dinding sebelahnya yang ditempeli gambar-gambar coretan anak kecil. Tak ketinggalan pintu kamarnya yang sarat kertas berisi kutipan-kutipan dari para tamu yang pernah dijamunya.

“Pantang mati sebelum ajal,” katanya lagi. Menurutnya, terkadang ada orang-orang sudah mati duluan. Yang tidak punya harapan hidup lagi sampai-sampai berani mati. “Saya tidak akan berhenti berharap. Yang terpenting adalah research (mencari kembali-red). Artinya memberi nilai (value). Mencari kembali sesuatu itu dan kemudian diberi nilai tambah. Jadi tidak ada lagi yang baru. Yang ada hanya nilai tambah. ”

Ia mengibaratkannya dengan kacang. Bermilyar-milyar kacang di dunia yang bisa saja rasa dan kegunaannya sama saja. Tapi bagaimana hanya dengan kacang seseorang bisa menjadi jutawan? Aku tertegun. Lalu berbarengan aku dan dia mengucapkan, “nilai.”

Aku begitu antusias untuk menulis sebuah kutipan yang akan ditempel di pintu kamarnya. Kuambil secarik kertas dari sekian banyak tumpukan di meja sebelah kanan dipannya. Entah benar entah salah. Entah bijak atau tidak. Aku pun menulis,

‘Terkadang dunia lebih kejam daripada neraka. Setidaknya yang terjadi di neraka adalah KEADILAN.’

No comments:

Post a Comment